SLIDE-1-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-2-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-3-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

If you are going [...]

SLIDE-4-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-5-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

Showing posts with label Jurnal. Show all posts
Showing posts with label Jurnal. Show all posts

Monday, December 06, 2010

Dan kesialan pun berlanjut...

Berangkat tengah malam dari Pondok Gede ke Senayan biasanya aku capai dalam waktu kurang dari 45 menit. Namun kali itu berbeda karena resiko ketika menggunakan sepeda motor di saat tengah malam pastilah selalu ada. Apalagi aku yang masih terjadwal bekerja secara shift. Namun resiko yang aku hadapi kali ini bisa lebih dibilang sebagai kesialan.

Tuesday, November 30, 2010

Nasibmu.. oh Asisten Rumah Tangga

Masih miris dengan kisah para TKW yang mengadu nasib di negeri orang untuk mencari nafkah, namun sengsara yang didapat bahkan nyawa pun melayang, nasib sial pun harus dihadapi 2 gadis asal Jawa Barat ketika memutuskan menerima ajakan orang untuk bekerja di Jakarta, di tetangga sebelah rumah. Keduanya sekarang bekerja untuk kami.

Monday, December 15, 2008

Nasi Bancakan

Selama 4 hari 3 malam di Bandung untuk FFI 2008, kami menginap di Hotel Grand Pasundan yang baru saja relaunching. Lokasinya sekitar 2 km dari pintu tol Pasir Koja, tepatnya di Jl. Peta no. 147-149. Lokasinya yang sangat jauh dengan venue acara FFI 2008 yang di depan Gedung Sate membuat kami sedikit tercekat... namun show must go on toh? Setelah nyasar mencoba trek dalam kota yang membuat bingung sang driver membuat kami harus memilih jalur tol pasir Koja - Pasteur yang 2 kali lipat jauhnya sebagai jalur harian.

Jauhnya perjalanan untungnya tidak mengurangi kenikmatan kami ketika berwisata kuliner ke Warung Nasi Bancakan Mang Barna dan Bi O'om yang lokasinya sekitar 5 menit berjalan kaki dari Gedung Sate, tepatnya di Jl. Trunojoyo no. 62. Keunggulan dari warung nasi ini adalah ia menjual suasana tempo dulu yang ditunjukkan oleh perangkat yang digunakan seperti baskom kaleng, termos, gelas kaleng dan piring kaleng jaman dulu dengan warna-warni khasnya. Lampu petromaks dan anyaman bambu membuat nuansa kampung makin terasa. Juga jangan lupa dengan tungku lengkap dengan kayu bakarnya yang membuat masakannya mempunyai rasa dan aroma yang khas.

Sajian di letakkan di dalam baskom-baskom kaleng yang dapat kita pilih sendiri. Jenisnya bermacam-macam seperti ayam goreng cisaga, pindang ikan mas, jengkol goreng, beuleum peda (peda bakar), balakutak, ulukuteuk leunca, sayur asem dan masakan sunda lainnya untuk menemani nasi liwet atau timbel yang dimasak dengan kayu bakar serta pelengkap yang tidak bisa tidak ada yaitu sambel terasi dan sambel oncom.

Untuk minuman selain air putih yang disimpan dalam teko abu2 besar bersama dengan gelas kaleng kecil, dapat juga merasakan segarnya es doger atau es cincau. Lalu bila perut masih punya ruang, silahkan coba kue balok yang bentuknya seperti pukis namun dengan rasa khas bakar atau bisa untuk oleh-oleh.

Saran saya coba lihat-lihat dulu pilihan makanan yang disajikan agar tidak menyesal karena salah pilih menu karena piring sudah tidak mampu menampung makanan kesukaan Anda. Untuk harga aku tidak bisa berkomentar karena semua atas biaya bos... thanks bos! Namun katanya berkisar 10 ribu hingga 20 ribu rupiah saja. Cukup terjangkau kan? Aku pasti akan kembali mengajak keluargaku kesini bila lain kali kami ke Bandung untuk sekedar bernostalgia ke masa lalu.

Wednesday, April 02, 2008

Duh..!

Di AS sana masih ada perdebatan tentang akibat dari pemanasan global, ada yang bilang membahayakan umat manusia namun sebaliknya ada yang menyangsikan. Namun yang jelas di sini musim hujan semakin panjang dengan kualitas yang semakin sering dan meningkat. Dahulu bulan ber-ber alias September - Desember adalah waktunya musim hujan sekarang sudah tidak tepat lagi. Sekarang semakin panjang dan menurut BMG musim kemarau tahun ini masuk bulan Juni-Juli.

Musim hujan tahun ini selain lebih banjir dan lebih macet juga lebih sering, hingga hampir setiap perjalanan pulang/pergi kantor seringkali harus kehujanan. Apes banget deh... mengingat jam kerjaku yang tidak teratur, seringkali aku pulang atau berangkat tengah malam harus menembus gelap dan hujan. Segitunya nyari duit receh....

Jadi ingat akhir tahun kemarin kami meliput daerah Jatim yang terlanda banjir. Antara lain Tuban, Lamongan dan Bojonegoro yang terkena dampak dari aliran Bengawan Solo. Hampir seminggu kami meliput namun banjir belum surut hingga habis berita yang bisa kami sampaikan. Dan parahnya lagi ternyata tempat yang dahulu kami liput ternyata saat ini masih dalam kondisi banjir. Kabarnya air sempat surut namun sebulan belakangan ini air naik lagi. Duh..

Yang paling aku ingat saat kami bersama penduduk korban bencana adalah mereka mengumpulkan sisa-sisa nasi bungkus yang kami makan, lalu dijemur dan selanjutnya akan menjadi makanan mereka. Tidak peduli berapa banyak posko bencana yang didirikan, namun sepertinya mereka yakin bahwa posko yang mengusung nama partai, nama kandidat pilkada, nama perusahaan tidak akan bertahan lama sesuai dengan kepentingan masing-masing dan mereka akan sendiri lagi. Duh...

We're Moving

Banyak perubahan dan pengalaman sejak terakhir kali aku menulis blog. Saat itu kami masih berkantor di Jl. Gatot Subroto dan sekarang aku bergeser 5 km ke arah Senayan, tepatnya Senayan City. Kantor baru ini lebih dekat dengan rumah ortu tapi menjauh dari tempatku sekarang.... pantat makin berasa tebal tiap kali pergi atau pulang kantor.... 26 kilo-an bow.

Kesanku terhadap kantor ini adalah kami tidak pantas berkantor di sini, dimana gedung ini amat sangat modern, dimana sebagian besar dari kami masih membawa kebiasaan lama, kasarnya 'kampungan' gitu deh. Seperti biasa bila ada perubahan pasti ada saja keluhannya, antara lain AC yang terlampau dingin (sudah banyak yang jatuh sakit karena kedinginan), Elevator yang saking 'pintar'nya bisa memilih untuk tidak berhenti untuk mengangkut calon penumpangnya (rekorku 12 menit menunggu pintu lift terbuka), harga makanan yang lebih mahal (bila ingin dekat), sebaliknya bila ingin murah harus berjalan cukup jauh. Di samping itu OB punya kekuatan baru, kami tidak diperbolehkan menyuruhnya selain urusan pekerjaan kantor. Jadi membeli makanan, mengambil peralatan makan hingga mengembalikan piring/gelas kotor ke pantry harus dilakukan sendiri. Ditambah tempat makan atau breakout area berlokasi di tempat terbuka, hingga bila kita makan (harus di tempat ini saja!) terpaksa dipelototi orang sekantor.... jadi sekarang gak mungkin aku makan J-Co atau Dunkin tanpa menawari yang lainnya.


Tapi tentu saja, fasilitas terbaik yang kami dapatkan sekarang, cukup refreshing dan semoga membawa kebaikan bagi kami sebagai karyawan yang menguntungkan perusahaan dan kembali lagi ke karyawan dalam bentuk BONUS. hehe...

Mood Menulis

Aku ingat salah satu ucapan Arswendo Atmowiloto. Kurang lebih katanya, penulis yang baik adalah penulis yang tetap menulis di setiap kesempatan walau sedang tidak mood. Nah, jelas aku bukan penulis yang baik... bahkan memang bukan penulis, karena sekian lamanya aku absen menulis di blog ini dengan alasan mood yang hilang.
Tapi salah satu serial Doogie Howser, MD... itu tuh kisah anak jenius yang telah menjadi dokter termuda... tentang penyakit alzheimer yang menderita salah satu pasiennya, membuat aku terus memaksa menulis lagi dan lagi. Doogie yang selalu menulis diary di komputernya di setiap closing acaranya... menuturkan betapa beruntungnya ia dapat menyimpan sebagian memorynya di komputernya tersebut. Aku juga ingin merasa beruntung seperti itu.... setidaknya ketika aku membaca bagian awal blog ini aku dapat tersenyum....
Jadi ini kesekian kalinya aku kembali menulis dari sekian lama liburan panjang dari menulis.

Friday, October 12, 2007

Bersyukur

Masih terjebak oleh selembar kertas yang disebut jadwal kerja atau activity schedule, saat ini aku menghabiskan waktu untuk bekerja di kantor, padahal yang lainnya mungkin sedang berkumpul bersama keluarga, teman dan handai taulan bertakbir bersama menyambut hari kemenangan.

Bekerja di sini maksudku adalah luntang-lantung di kantor, browsing internet, membaca email, menulis blog, mengobrol dengan teman-teman senasib yang juga terjebak oleh pekerjaannya masing-masing. Bekerja bagiku hari ini dan seringkali hari-hari lainnya adalah sinonim dengan standby... gak jauh beda sama kerjanya sekuriti.

Astaghfirullah... Aku memang kurang bersyukur. Mungkin aku lebih beruntung karena selepas tengah malam aku bisa pulang ke pelukan istri dan putri tersayang, sedangkan teman-temanku yang lain sedang bersiap-siap men-setup alat untuk siaran langsung di Istiqlal esok pagi. Melewatkan shalat Ied bersama keluarga dan sahabat.

Jangan sampe deh, untuk bersyukur kita harus merasakan kehilangan terlebih dahulu.

Saturday, June 23, 2007

Batpil ala Milis Sehat

(pic) Shafa 3,5 bulan, masih ASI ekslusif nih....

Aduh lagi flu nih.... kasian Shafa sama mamanya jadi ikut ketularan. Untungnya Shafa bayi produk ASI, jadi masih tetap lincah dan riang, cuma setelah agak malam jadi agak rewel. Untuk menambah ilmu kesehatan keluarga (terutama kesehatan bayi) saya mengikuti milis sehat. Milis ini saya ketahui dari KOMPAS. Saya anjurkan untuk semua orang tua untuk mengikuti milis ini, banyak pemahaman kita selama ini yang ternyata salah dan di milis ini membahasnya untuk kita. Pada intinya milis ini menganut Reasonable Use of Drugs... maksudnya menggunakan obat secara benar, bukan membabi buta seperti selama ini masyarakat kita lakukan. Pokoknya setiap sakit sedikit saja pastilah minum obat, yang dalam jangka waktu lama akan malah menimbulkan masalah baru di tubuh kita.

Contohnya sakit flu atau batuk pilek.
Selama ini kita menggunakan antibiotik untuk mengobati segala penyakit, ke dokter pun pasti diresepkan antibiotik juga. Rajanya obat pokoknya... Namun ternyata penggunaan antibiotik yang salah malah akan menyebabkan bakteri yang merugikan semakin kebal. Pada kasus batuk pilek, antibiotik tidak dibutuhkan karena batpil disebabkan oleh virus bukan bakteri. Menggunakan antibiotik sama saja dengan membunuh bakteri yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh. Bayangkan saja bila kebiasaan ini terus dilakukan selama bertahun-tahun.

Pengobatan flu atau batuk pilek sebenarnya cukup sederhana, istirahat dan makan yang cukup. Bisa ditambahkan dengan pengusapan balsem atau dengan uap air panas untuk meringankan pileknya. Bila kasus ini terjadi pada anak bayi kita selain dengan cara di atas juga dengan menjemurnya di pagi hari dan menggunakan larutan NaCL untuk melegakan hidung yang tersumbat karena pilek. Kecuali bayi anda sudah cukup pintar untuk menyisih ingus dari hidungnya.... Demam yang menyertai flu sebenarnya juga suatu proses dari dalam tubuh untuk menghancurkan virus-virus yang sedang menyerang tubuh, jadi jangan terburu-buru minum obat penurun panas.

Nah, itu baru satu tips dari milis sehat untuk hidup lebih baik dan lebih sehat. Bayangkan, masih banyak tips dan info lain dari milis ini yang akan sangat berguna untuk kita. Cuma masalahnya memang mengubah paradigma lama dari keluarga kita. Bisa-bisa diomelin, katanya, "anak sakit kok dibiarin ajah....!"

Thursday, May 17, 2007

Aqiqah Dan Rambut

Ternyata hiatus-nya masih berlanjut ya... maaf yang sudah sering berkunjung tapi tidak mendapat kunjungan balik. Terimakasih juga buat semua yang sudah mengisi komentar ataupun shoutbox. Selain kesibukkan sebagai orang tua baru saya juga kehabisan waktu dan tenaga untuk menambah penghasilan agar putri kami mendapatkan kebutuhannya dengan layak.

Ini cerita lanjutan setelah kelahiran putri kami. Setelah memberikan nama yang baik dan indah, kewajiban kami sebagai orang tua berlanjut. Shafa harus di aqiqah dan dicukur rambutnya sesuai ajaran kami sebagai muslim.
Ini foto Shafa yang kami tempel pada kotak berkat dan buku doa aqiqah.
Rambutnya memang tebal yah...?!

Untuk aqiqah, kami diharuskan untuk memotong seekor kambing karena yang diaqiqahkan adalah perempuan. Sunahnya adalah memberikan daging aqiqah dalam keadaan matang atau siap dimakan maka aku memutuskan menggunakan jasa orang lain. Karena sebelumnya kakakku yang menggunakan jasa Salima Aqiqah cukup puas dengan hasil masakannya, maka aku turut menggunakan jasanya. Lumayan murah kok biayanya, bahkan dari tahun lalu harganya tidak berubah. Masakannya sudah diantar kerumah kami jam 7 pagi berupa kare kambing 750 porsi dan sate 300 tusuk. Tidak perlu lagi repot-repot.

Yang agak repot ketika beberapa anggota keluarga, termasuk istriku sendiri tidak rela untuk mencukur rambut lebat Shafa. Aku harus menunda 2 minggu lebih setelah aqiqah untuk meluluhkan hati istriku. Padahal rambut Shafa sebagian sudah dicukur oleh ustadjah dan ibu-ibu pengajian. Tidak afdhol rasanya bila tidak menjalankan sunah yang ini.

Sunday, April 08, 2007

Sunat Bayi Perempuan

Sebelum putri cantik kami lahir, aku sempat membaca sebuah artikel yang ditempelkan di mading RS Haji Jakarta tentang dilarangnya sunat pada bayi perempuan di seluruh rumah sakit di Indonesia. Artikel itu dirilis oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia) yang didasari atas perintah dari Menkes dr. Siti Fadilah Supari. Sebagai awam, aku sangat tertarik karena selama ini dengan alasan agama atau budaya, sunat pada bayi perempuan lazim dilakukan pada bayi perempuan yang baru lahir. Begitu pula di keluarga kami.

Setelah mencari informasi kesana kemari, termasuk googling di internet aku meyakinkan diriku bahwa sunat pada bayi perempuan tidak wajib dilakukan mengacu pada hadis Rasulullah SAW yang bersabda: "Khitan itu disunatkan bagi kaum lelaki dan dimuliakan bagi kaum wanita". Lalu kutahu pula bahwa sunat pada bayi perempuan secara medis tidak berpengaruh pada kesehatan berlainan dengan sunat pada anak lelaki. Bahkan sebaliknya, sunat pada bayi perempuan dapat sangat berbahaya. Juga tidak terbukti ada pengaruhnya dengan pengurangan libido.

Dikarenakan faktor kebiasaan dan budaya, aku tidak serta merta jadi anti sunat pada bayi perempuan. Apalagi dari segi agama, masih ada perbedaan pendapat antar para ulama tentang sunat ini, apakah wajib, sunat atau hanya dimuliakan saja. Aku memilih untuk menunda hingga kami benar-benar yakin bahwa sunat pada bayi perempuan itu aman.

Karena keluarga istriku cukup berat melepas adat kebiasaan itu, apalagi bila disangkutpautkan dengan agama, aku seperti diteror terus menerus. Akhirnya setelah Shafa berumur sebulan aku memutuskan untuk melakukan sunat padanya asal aku bisa diyakinkan dengan keamanannya. Namun ketika kami meminta perawat RS Haji Jakarta untuk menyunat bayi kami, mereka menyatakan bahwa RS Haji yang notabene RS Islam selama lebih dari 2 tahun sudah tidak pernah lagi melakukan sunat pada bayi perempuan. Alih-alih melakukan sunat, perawat hanya membersihkan vagina Shafa saja.

Back From Hiatus

Aah... setelah hiatus sekian lama, akhirnya bisa ngeblog lagi. Senangnya....

Salah satu alasan aku break dari nge-post blog dan blogwalking adalah memang sebagai orang tua baru, kami dikondisikan untuk benar-benar mencurahkan waktu dan perhatian kepada Shafa, bayi kecil kami. Salam terakhir para perawat ketika kami akan pulang dari rumah bersalin memang benar pada kenyataannya. "Selamat begadang bu... pak..!" begitu kata mereka. Yah begitulah kenyataannya.

Selain mengurus Shafa, keluarga kami juga ditimpa musibah pertengahan Maret lalu yang menyebabkan aku hampir tidak pernah berkunjung ke blog ini. Inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun. Segalanya berasal dari Allah dan kembali kepadaNya jua. Pada hari Minggu tanggal Maret 2007, ayah mertuaku, Bpk. H. Hamim Asmawi bin Ardi telah berpulang ke Rahmatullah dalam usia 64 tahun karena sakit kanker yang menderanya selama setahun terakhir ini. Jenazah langsung dimakamkan hari itu juga selepas bada Dzuhur.

Tapi sekarang I'm back....

Saturday, March 03, 2007

My Pretty Baby

Ini dia wajah putri mungil kami, Nazura Shafa Andhara sekitar 15 menit setelah dilahirkan, hanya beberapa saat setelah ditunjukkan kepada bundanya yang masih berada di atas meja operasi. Mukanya masih membulat penuh lemak membuat hidung kecilnya disebut-sebut pesek oleh ibunya. Lihat matanya yang sudah jeli seperti sedang memperhatikan apa yang ada di depannya. "Cepat besar ya nak.."

Istriku mungkin sedang berpikir, "Alhamdulillah, hidung anakku ternyata nongol juga...". Shafa saat itu sudah berusia 3 hari dan pagi itu kami baru saja diberitahu bahwa pusernya sudah puput. "Wah kelihatannya ada yang buru-buru mau cepet gede nih..."

Shafa sedang tidur lelap di hari keempat sejak kelahirannya ketika akan pulang dari rumah sakit.
Wajahnya sudah menunjukkan aslinya, cantik kan? Ketika pulang berat badannya sudah berkurang menjadi 2,5 kg karena lemak tubuhnya sudah hilang. "Semoga kamu tetap sehat ya nak..."

Friday, March 02, 2007

Nama Dan Do'a

Tidak terasa sudah seminggu kami resmi menjadi orang tua. Bayi mungil kami sudah mulai menampakkan kecantikan aslinya. Wajahnya tidak mirip ayah maupun bundanya, melainkan perpaduan dari wajah kami berdua. Bayi kami ini tampak sangat tenang, tidak banyak terusik oleh gangguan apapun. Kerjanya tidur saja. Bahkan saat buang air pun ia tidak banyak bersuara.

Sejak kelahirannya banyak yang istimewa darinya. Rambutnya hitam dan tebal. Tubuhnya bersih, tak banyak lemak yang menempel sehingga mudah untuk dibersihkan. Dan matanya itu loh yang sudah plarak-plirik seperti sudah besar saja. Bahkan 3 hari kemudian, pusernya sudah puput... kata orang tua, namanya harus cepat-cepat diberikan. Setelah berdiskusi dan menunda cukup lama, akhirnya kami memutuskan nama anak kami :

Nazura Shafa Andhara
"Pemimpin yang dikagumi karena kejernihan (berpikir) yang memancarkan sinar keindahan dan kesempurnaan."

Selain itu Shafa yang artinya jernih (Arab) juga mengingatkan bahwa ia lahir bulan Shafar. Andhara juga merupakan akronim dari Anak dari Rezky dan Arief. Semoga doa kami yang mengiringi nama putri kami dapat terwujud. Semoga putri kami menjadi anak yang sholehah yang berbakti kepada orang tua, bangsa dan agamanya. Amin.

Here She Comes!

Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami di RSB Asih pada hari Kamis tanggal 22 Februari 2007 pada pukul 22.45 WIB. Dengan panjang 46 cm dan berat 2,6 kg bayi mungil kami dilahirkan secara Sectio Caesar. Bayi dan ibunya kini dalam keadaan sehat wal afiat.

Rencana kami untuk melahirkan secara normal walaupun didukung oleh dokter kami ternyata tidak berhasil diwujudkan. Setelah pemeriksaan rutin di RSB Asih Kamis siang, dokter menyarankan untuk tidak pulang karena setelah diperiksa kontraksi telah berlangsung secara intens. Setelah ditambah obat perangsang, sekitar pukul 6 sore ketuban pecah dan setelah itu selama 4 jam lebih istriku merasakan mulas yang amat sangat hingga tak tertahankan namun bukaannya tetap saja tidak lebih dari 1.

Akhirnya mengingat kondisi istriku yang sudah tak kuat lagi maka kami memutuskan untuk melakukan operasi Caesar. Setelah dilahirkan kami mengetahui bahwa tali pusar bayi kami melilit tangan dan kaki yang menyebabkan posisi bayi miring tidak mengarah tepat ke mulut rahim sehingga menabrak dinding rahim yang menyebabkan sakit diluar kenormalan. Syukurlah tidak terjadi hal yang lebih membahayakan sang ibu.

Kondisi bayi kami setelah dilahirkan sehat dan sempurna. Mukanya masih membulat penuh lemak menyebabkan hidung mungilnya terlihat pesek... hal pertama yang dikomentari bundanya saat melihatnya. Kulitnya mulus dan bersih sehingga mudah untuk dibersihkan oleh dr. Budiati, dokter anak yang menanganinya pasca operasi. Rambutnya hitam dan lebat, salah satu hal yang banyak dikomentari oleh semua yang melihatnya. Selain itu matanya yang sudah jeli seperti mengawasi kondisi sekitarnya membuat gemas saja.

Alhamdulillah, setelah sembilan bulan menanti melewati rasa mual yang berlebih, bed rest di rumah sakit selama 3 hari, terpaksa minum susu selama masa kehamilan, meluangkan waktu untuk mengunjungi dokter, biaya-biaya yang harus dikeluarkan, cuti-cuti yang harus diambil, separuh hari menahan rasa sakit dan mulas.... semua terbayarkan setelah melihat bayi kami.

Wednesday, February 21, 2007

False Alarm!

Sudah agak lama aku tidak menulis di blog ini. Banyak kesibukan di kantor karena liputan banjir juga ditambah kesehatan Bapak yang mulai menurun lagi. Bahkan akhirnya Bapak harus menginap lagi di RS Haji Jakarta untuk (kalau tidak salah) ke-13 kalinya. Ini bisa dilihat dari jumlah souvenir dari rumah sakit berupa gelas dan kotak plastik sudah melebihi 1 lusin. Apalagi bila ditambah anggota keluarga lain... wah bisa buka toko souvenir RS Haji tuh.

Mengenai kandungan istriku yang sudah memasuki minggu ke 38, kami akhirnya sepakat untuk pindah RS Bersalin. Kalau sebelumnya kami selalu memeriksakan kandungan di RS Bunda Margonda, nantinya Insya Allah istriku akan melahirkan di RSB Asih di Kebayoran Baru. Dokter kami tidak berubah, tetap dr. Ari Waluyo sang dokter gaul. Di RSB Asih beliau merupakan dokter yang termuda. Kenapa pindah? Mungkin ada yang bertanya (kalau gak ada yang nanya tetap aja aku akan jawab alasannya - lha wong ini blog aku kok). Alasannya biaya bersalin di RS Bunda Margonda naik 1 juta untuk persalinan Caesar dan 2 juta untuk persalinan normal. Mana tahan...

Dr. Ari sudah mengisyaratkan bahwa kemungkinan bayi kami akan lahir minggu-minggu ini. Jadi ketika istriku mulai merasakan mulas-mulas secara periodik, kami langsung mengangkut semua perlengkapan bayi dan ibu yang sudah kami persiapkan sebelumnya ke dalam mobil dan pergi menuju rumah orang tuaku yang lokasinya lebih dekat ke RSB Asih. Namun ternyata bayi kami masih betah berada dalam kehangatan perut bundanya, setelah malam mulasnya hilang dan hingga sekarang tidak lagi ada tanda2 akan melahirkan dalam waktu dekat.

Dasar anak nakal... belum keluar kok udah ngerepotin bapak-ibunya. Tapi lumayan aku dapat ijin tidak masuk kantor selama 2 hari.

Saturday, January 27, 2007

Di Lajur Paling Kanan

Ini pengalamanku kemarin sebagai pengguna jalan di jalur yang mewajibkan sepeda motor di lajur kiri. Saat itu jalanan sedang padat-padatnya karena mendekati jam masuk kerja.

Sebuah kijang yang sedang mengantri di padatnya jalan mengambil kesempatan masuk ke lajur paling kanan. Sebuah tiger dengan sepasang suami istri di atasnya yang berada di lajur paling kanan mengklakson kijang tadi tidak ingin memberikan jalan. Aku dengan bebek merahku berada di belakangnya. Kijang tadi tetap menyeruduk mengambil kesempatan. Dengan beringas, tiger mengaum menarik gasnya mengambil celah diantara kijang dengan dinding beton. Sang pengemudi kijang yang masih muda mengeluarkan makian teredam di dalam kijang berkaca bening. Pengemudi tiger yang merasa tertantang kontan berhenti di moncong kijang dan melompat meninggalkan tigernya beserta istrinya yang berteriak memanggil mas-nya tanpa hasil.

"Sialan lo! Ngomong apa lo barusan dasar anjing!" teriak pengemudi tiger tadi, lupa kalo kijang itu kijang... anjing itu anjing. Gayanya seperti baru saja harga dirinya diinjak-injak, mirip setan yang anaknya habis diperkosa manusia (ingat.. ingat.. ini salah satu hal yang dibenci Tuhan dan dibenci pula oleh setan).
"...! ...!" balas pengemudi kijang tak kalah galak. Suara anak muda itu teredam di dalam mobil. Biar uratnya sampai putus teriak-teriak, tetap saja gak kedengaran jelas. Tapi dari tangannya yang menunjuk-nunjuk, jelas ia menyatakan bahwa tiger tadi salah berada di jalur kanan.
Terus memaki-maki, sang pengemudi tiger mengakhirinya dengan berlagak memukulkan sikunya ke arah kaca jendela kijang, "Gue tunggu lu di Cawang, baru rasa lo! Dasssar!" ancamnya keras. Lalu dengan gagah berbalik menuju ke tiger dan istrinya yang menatap cemas, kembali menjalankan tigernya.
Walau tiger sudah berjalan, kijang sudah merangkak, beberapa kali aku lihat sang pengemudi tiger menunjuk-nunjuk kijang dan berlagak akan turun dari tigernya kembali. Rupanya perang urat syaraf masih dilanjutkan. Aku masih mendengar, "Gue tunggu di Cawang!"

Aku di bebek merah cuma bisa geleng-geleng kepala.

Kijang? Tiger? bebek? Jangan bingung, jalanan di pagi hari memang seperti hutan yang keras. Tapi tidak sekeras aturan baru di mana sepeda motor wajib di lajur kiri. Setelah sempat tegas selama seminggu, polisi menunjukan mental anget-anget tahi ayam (eh emang beneran anget ya?) dengan kembali membiarkan aturan tersebut dilanggar.

Memang aturan ini sulit sekali dipatuhi terutama di saat jalanan padat merayap. Angkutan umum menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat. Mobil pribadi juga memenuhi jalanan walaupun tidak memenuhi kuota 3 in 1. Masih ada joki mungkin pikir mereka. Rambu yang tidak jelas dan mental yang rendah mempersulit aturan tadi untuk dipatuhi.

Aturan itulah yang membuat tontonan selama 15 detik itu. Sang pengemudi kijang merasa punya hak untuk tidak mengalah kepada motor yang menurutnya salah. Tiger itu mungkin juga tidak salah karena tidak ada rambu di sana yang melarangnya di jalur kanan. Yang bikin aku geleng2 kepala adalah lagak kedua orang itu yang merasa sebagai 'jagoan jalanan' berharap menjadi tontonan.

Wednesday, January 24, 2007

Susahnya Mencari Nama

Sejak dokter kami menyatakan bahwa bayi kami berjenis kelamin perempuan, aku mulai mereka-reka dan merangkai kata untuk nama untuk calon bayi kami. Dari sekedar mengunjungi situs-situs nama bayi di internet, mengikuti milis nama bayi, membaca buku tentang nama bayi hingga membaca novel-novel yang siapa tahu memuat nama yang sreg untuk bayi kami. Namun sayangnya hingga kini kami belum mendapatkan nama yang cocok. Memang aku agak banyak memberi persyaratan untuk nama yang akan kami pilih. Selain mempunyai arti yang baik juga mempunyai pengucapan yang mudah tapi tetap enak di dengar. Juga kalau bisa tidak jauh-jauh dari nama anak Indonesia, jawa atau Sunda, juga nama yang Islami.

Lucunya banyak orang yang memberikan nama untuk anak dengan begitu mudahnya. Contohnya adalah putra tetanggaku, mereka memberikan nama Dolar Rupiansyah karena saat itu nilai tukar Dolar yang sedang tingi-tingginya. Lalu aku juga pernah membaca ada seseorang yang mempunyai nama Sukar karena sulitnya sang ibu dalam melahirkannya. Juga ada seorang aktivis yang memberikan nama Gusur Soeharto untuk anaknya yang lahir sebelum masa turunnya Soeharto. Bahkan saat aku mencari di internet, ada seseorang yang memberikan nama Sydzakar Vaginawati untuk putrinya. Aku sulit membayangkan pertanyaan-pertanyaan yang akan didapat bila anak-anak tadi beranjak besar.

Selain itu beberapa orang ada yang memberikan nama merujuk kepada seorang tokoh yang dikagumi orang tuanya saat itu. Adakah teman anda yang bernama Saddam Hussein atau Yasser Arafat? Aku mempunyai kenalan dengan nama tadi. Aku yakin orang tuanya sangat mengidolakan tokoh-tokoh tadi. Tapi apakah mereka tahu bahwa Saddam berakhir sebagai seorang diktator yang harus mati di tiang gantungan? Lalu ketika Osama bin Laden menjadi target incaran Amerika, banyak anak yang dinamai Osama atau Usamah. Padahal setelahnya kita tahu bahwa Osama tidak jauh berbeda dengan teroris. Oleh karena itu aku sudah mewanti-wanti untuk tidak menyamakan nama anak kami dengan tokoh siapapun. Karena bisa saja saat ini tokoh itu dipuja dilain waktu ia dihujat.

Memang sulit mencari nama yang baik hari ini dan nanti. Karena nama adalah doa.

Friday, January 12, 2007

Amazing People

"Kemarin aku makan bareng Nicholas Saputra dong..." kataku berusaha menarik perhatian istriku.
Istriku memang langsung tertarik. "Kok bisa ketemuan? Ada acara apa?" tanyanya.
"Biasa, ngebahas Piala Citra." sambutku.
"Siapa aja yang datang?" kejar istriku.
"Ada Nicholas Saputra, Garin Nugroho, Ria Irawan, Nia diNata, Hari Dagoe, Riri Riza... banyak deh."
"Kok gak minta foto bareng?" tanya istriku.
"Ih ngapain, malu2in aja... kayak orang norak." kataku sambil mengernyitkan muka.
"Gapapa dong, buat istri... minta tanda tangan kek.." katanya lagi, "payah sih gak punya kamera ponsel.... punyanya yang udah uzur sih," leceh istriku sambil menunjuk hape tuaku.
"hehe..." aku ketawa saja.

Dalam pekerjaanku aku memang terbiasa bertemu dengan para tokoh-tokoh terkenal, baik selebritis maupun politikus juga tokoh masyarakat. Aku memang tidak terlalu tergila-gila dengan para selebritis itu seperti orang lain pada umumnya. Seandainya bisa aku lebih memilih berfoto bersama tokoh masyarakat dari politik ataupun agama. Aku cenderung lebih menghargai karya-karya seleb di bidangnya masing-masing. Lalu aku ikut dalam program Topik Minggu Ini.
Kontroversi film Ekskul yang dikatakan merupakan karya plagiat karena ilustrasi musik film ini mengambil (walaupun harus dibuktikan terlebih dahulu) ilustrasi musik dari film Tae Guk Gi, Gladiator dan Munich, namun malah diganjar dengan piala Citra membuat topik ini diangkat dalam Topik Minggu Ini : "Ada Apa Dengan Citra". Aku tidak akan membahas kontroversi ini di sini, berita selengkapnya baca di sini saja.

Aku cuma ingin bercerita bahwa perasaanku sedikit berbeda ketika bertemu dengan tokoh-tokoh yang kusebut di atas. Aku sempat menyayangkan bahwa aku tidak membawa kamera digital-ku. Orang2 yang kutemui adalah para insan aktif dalam perfilman saat ini, dan kesan yang kudapat adalah mereka adalah orang-orang biasa, sama seperti kita, baik dari gaya berpakaian,bersikap dan berpikir. Down to earth, tidak seperti para artis lain yang sering kutemui.

Aku makin kagum.


Friday, January 05, 2007

Babyku Ndut(?)

Apa yang terlihat pasti belum tentu suatu kebenaran.

Tidak seperti yang terlihat, bayi dikandungan istriku ternyata lebih besar dari yang kami duga. Setiap kali sebelum kami bertemu dengan dokter kandungan istriku, pasti ada rasa was-was karena perut istriku tidak terlihat besar seperti ibu hamil pada umumnya. Namun di awal tahun 2007 ini, dr. Ari menyatakan sesuai dengan hasil USG, berat bayi kami yang baru 7 bulan lewat itu sudah mencapai 1,6 kg, mengingat pertambahan berat badan tiap minggunya dapat mencapai 300 ons. Menurut dokter gaul ini, berat tersebut agak terlalu besar dibandingkan tubuh mungil istriku. Jadi walaupun belum harus diet, tapi istriku diharapkan untuk menjaga makanannya hingga pertemuan selanjutnya.

    • Popular
    • Categories
    • Archives