SLIDE-1-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-2-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-3-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

If you are going [...]

SLIDE-4-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-5-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Saturday, November 27, 2010

Bandar Batavia: Seafood Nuansa Pegunungan

Kalau gak ada Ms. Lulu yang rela menjamu kami di Bandar Batavia, mungkin saya gak akan tahu bahwa ada tempat yang bisa direkomen gak cuma karena makanannya tetapi juga tempatnya.

Friday, January 02, 2009

Perfume : The Movie

Seperti yang aku tulis sebelumnya setelah membaca Perfume, A Story Of A Murderer, aku berniat menonton hasil adaptasinya dalam bentuk DVD. Akhirnya tanpa sengaja aku melihat DVD tersebut dalam tumpukan koleksi adikku. Maka jadilah aku menonton film tersebut sambil mengisi waktu libur panjang.

Sebagai sebuah adaptasi sebuah buku, tentu saja sulit untuk memindahkan tulisan ke gambar visual. Maka film ini dibuka secara agak monoton dengan bantuan seorang narator yang bercerita tentang awal kehidupan Grenouille yang menghabiskan waktu lebih dari 15-20 menit. Pastilah bagi yang belum membaca novelnya akan segera merasa bosan. Beruntung gambar yang ditayangkan secara cermat berhasil menggambarkan masa abad ke 18 di sudut kota yang kotor dan kumuh secara nyata dan mampu mengenalkan sosok Grenouille sang tokoh kita. Lalu tokoh Grenouille yang digambarkan sebagai orang yang buruk rupa, lemah, kotor dan tak berarti dibawakan dengan pas oleh Ben Whishaw.

Banyak cerita yang berbeda dari novelnya untuk memudahkan penuturan dalam film ini seperti layaknya adaptasi dari sebuah novel. Hanya disayangkan perubahan berbagai macam karakter Grenouille dan efek pada orang2 yang menciumnya saat menggunakan berbagai parfum tidak digambarkan secara mendalam bahkan hampir tidak ada (kecuali di akhir cerita)... padahal bagiku ini adalah bagian penting dari cerita novel tersebut, yaitu pencarian jati diri Grenouille yang tidak mempunyai aroma tubuh dan mengira menemukannya dalam parfum buatannya itu. Lalu di akhir cerita dimana Grenouille menggunakan parfum yang telah sempurna dan memberikan efek bombastis (membuat seluruh kota dilanda pesta seks dan juga menjadi kanibal) malah digambarkan plek seperti di bukunya... padahal bagiku disinilah keabsurdan novel itu. Mungkin bagi penulis dan sang sutradara hal itulah yang dianggap menjadi klimaks dari keseluruhan cerita ini.

Secara keseluruhan, film dan buku Perfume dapat saling melengkapi sehingga kedua karya tersebut layak untuk dinikmati....

Monday, December 15, 2008

Nasi Bancakan

Selama 4 hari 3 malam di Bandung untuk FFI 2008, kami menginap di Hotel Grand Pasundan yang baru saja relaunching. Lokasinya sekitar 2 km dari pintu tol Pasir Koja, tepatnya di Jl. Peta no. 147-149. Lokasinya yang sangat jauh dengan venue acara FFI 2008 yang di depan Gedung Sate membuat kami sedikit tercekat... namun show must go on toh? Setelah nyasar mencoba trek dalam kota yang membuat bingung sang driver membuat kami harus memilih jalur tol pasir Koja - Pasteur yang 2 kali lipat jauhnya sebagai jalur harian.

Jauhnya perjalanan untungnya tidak mengurangi kenikmatan kami ketika berwisata kuliner ke Warung Nasi Bancakan Mang Barna dan Bi O'om yang lokasinya sekitar 5 menit berjalan kaki dari Gedung Sate, tepatnya di Jl. Trunojoyo no. 62. Keunggulan dari warung nasi ini adalah ia menjual suasana tempo dulu yang ditunjukkan oleh perangkat yang digunakan seperti baskom kaleng, termos, gelas kaleng dan piring kaleng jaman dulu dengan warna-warni khasnya. Lampu petromaks dan anyaman bambu membuat nuansa kampung makin terasa. Juga jangan lupa dengan tungku lengkap dengan kayu bakarnya yang membuat masakannya mempunyai rasa dan aroma yang khas.

Sajian di letakkan di dalam baskom-baskom kaleng yang dapat kita pilih sendiri. Jenisnya bermacam-macam seperti ayam goreng cisaga, pindang ikan mas, jengkol goreng, beuleum peda (peda bakar), balakutak, ulukuteuk leunca, sayur asem dan masakan sunda lainnya untuk menemani nasi liwet atau timbel yang dimasak dengan kayu bakar serta pelengkap yang tidak bisa tidak ada yaitu sambel terasi dan sambel oncom.

Untuk minuman selain air putih yang disimpan dalam teko abu2 besar bersama dengan gelas kaleng kecil, dapat juga merasakan segarnya es doger atau es cincau. Lalu bila perut masih punya ruang, silahkan coba kue balok yang bentuknya seperti pukis namun dengan rasa khas bakar atau bisa untuk oleh-oleh.

Saran saya coba lihat-lihat dulu pilihan makanan yang disajikan agar tidak menyesal karena salah pilih menu karena piring sudah tidak mampu menampung makanan kesukaan Anda. Untuk harga aku tidak bisa berkomentar karena semua atas biaya bos... thanks bos! Namun katanya berkisar 10 ribu hingga 20 ribu rupiah saja. Cukup terjangkau kan? Aku pasti akan kembali mengajak keluargaku kesini bila lain kali kami ke Bandung untuk sekedar bernostalgia ke masa lalu.

Perfume: Pencarian Sebuah Aroma


Perfume: The story of a murderer adalah sebuah novel karangan novelis eropa Patrick Suskind yang menjadi bestseller internasional.

Ketika novel ini dipinjamkan oleh istriku untuk dibaca, ia menambahkan bahwa novel ini telah difilmkan. Lalu sempat terlintas dibalik ingatanku yang payah, sepertinya pernah melihat trailer film dengan judul perfume dimana sang pelakon utama adalah seorang pembunuh yang mengkoleksi aroma para perawan yang menjadi targetnya dalam nuansa kumuh eropa jaman dahulu. Novel yang difilmkan selalu manjadi daya tarik bagiku, mungkin karena kita dapat mengapresiasi dari dua sisi yang berbeda. Oleh karena itu, perfume menjadi teman selama aku berada di Bandung untuk FFI 2008.

Novel ini mengambil set lorong-lorong kumuh Perancis di sekitar abad ke-18 di mana sang tokoh Jean-Baptiste Grenouille dilahirkan tapi tak diharapkan oleh ibunya dan dibuang bersama amis dan bau kotoran sampah. Sejak kecil Grenouille merupakan seorang yang aneh, bukan karena kerakusannya melahap apa saja dan kemampuan bertahan terhadap penyakit mematikan namun karena ia tidak punya aroma, bau badan. Dan yang tak diketahui oleh orang lain adalah indera penciumannya yang ekstra sensitif.

Dalam perjalanan hidupnya yang menyedihkan, Grenouille menemukan bahwa aroma terbaik adalah aroma dari perawan yang baru saja tumbuh. Selanjutnya tujuan hidupnya menjadi jelas, yaitu memindahkan aroma perawan ke dalam sebotol parfum.

Ide cerita Patrick Suskind ini memang brilyan. Ia menggambarkan setiap benda mempunyai aroma yang khas dan berbeda, bahkan setiap orang mempunyai aroma yang membentuk persepsi karakter oleh orang lain yang menciumnya. Namun hanya penciuman istimewa Grenouille lah yang mampu membedakannya sekaligus memindahkannya ke sebuah botol parfum. Jadi bila ia ingin mengubah karakter dirinya agar menjadi pusat perhatian, atau malah sama sekali tidak diperhatikan, Grenouille tinggal menyemprotkan parfum buatannya yang sesuai keinginannya.

Namun ada sedikit yang mengganggu aku sebagai penikmat cerita, karena Suskind terlalu berlebihan untuk secara kebetulan mematikan/membunuh karakter yang berhubungan dengan Grenouille tepat ketika Grenouille meninggalkan mereka. Dan ending yang bombastis, membuat cerita yang dibangun perlahan-lahan dari awal agar kita 'percaya' bahwa semua yang dituturkan adalah nyata menjadi berkurang.

Namun dengan ide cerita yang hebat seperti itu, aku rekomendasikan untuk membaca novel ini sekaligus memburu filmnya. Melihat aroma sebagai sesuatu yang abstrak diubah menjadi bahasa visual tentu amat menarik bukan?

Monday, March 21, 2005

Wapres. Tempat Nongkrong Asik

Aku lagi mau berbagi tempat nongkrong yang asik nih. Sekarang kan agak susah nyari tempat nongkrong yang asik tapi murah meriah. Nah, aku mau ngasi tau (untuk yang belum tau) tempat nongkrong asik di Jakarta. Jadi kalau kamu lagi di Jakarta en mau hang out bareng temen-temen tanpa perlu takut di-rese-in karena kelamaan nongkrong, silahkan mampir ke sini.

Image hosted by Photobucket.com

Namanya sih sederhana, Wapres. Bukan singkatan wakil presiden, melainkan Warung Apresiasi. Dari namanya aja udah bisa kita kira-kira kalau tempat ini memfasilitasi orang-orang kreatif untuk mengapresiasikan karyanya atau sekedar melihat karya orang lain, yang terutamanya sih di bidang seni. Letaknya di sekitar Blok M yaitu di jalan Bulungan, tepatnya lagi di samping GOR Bulungan. Kalau dilihat dari luar, tempatnya kelihatan agak meragukan karena cuma terlihat tembok tinggi yang penuh coretan dan poster-poster iklan gak jelas. Selain itu ada gerbang kayu yang selalu terbuka lebar menyambut tamu yang di dalamnya terlihat kain putih lebar yang digantung seperti spanduk selebar dan setinggi pintu berlogokan nama Wapres. Kalau kita masuk gerbang itu, kita akan disambut buku tamu yang diletakkan tepat di depan kain tadi. Jadi siapa aja yang mau bisa mengisi buku tamu itu. Boleh juga dilihat-lihat ke belakang, siapa tahu ada namaku.... hehe.

Image hosted by Photobucket.com

Setelah masuk, ditengah-tengah dibuat seperti taman kecil lengkap dengan pohon dan kolam yang atapnya terbuka menunjukkan langit di atas, dikelilingi teras yang diisi meja makan. Di tiap dindingnya dipenuhi oleh lukisan atau karya seni lainnya,lengkap di bawahnya tertulis keterangan mengenai judul karya dan siapa seniman pembuatnya.Kamu bisa memilih mau duduk lesehan atau di kursi atau kalau mau santai bisa memilih duduk di bangku rotan panjang yang diletakkan di sekitar panggung. Panggung ini seperti center of the attraction. Backdropnya seperti mata yang besar dengan warna biru dan merah yang dominan. Panggungnya selalu lengkap dengan alat-alat musik. Siapa pun bisa mengisi panggung terutama bila sudah mempunyai karya sendiri. Selain itu pernah juga diadakan acara nonton bareng film pendek karya anak bangsa.

Image hosted by Photobucket.com

Menu utama dari Wapres adalah Ayam bakar. Bagi yang sudah sering ke Mahakam, pasti tau Ayam Bakar Ganthari. Nah menunya sama, kelihatannya pemiliknya juga orang yang sama. Selain itu ada berbagai menu lainnya seperti masakan Cina. Di sini kamu juga bisa memesan berbagai minuman seru lainnya, misalnya macam-macam fruit punch dan coffee. Biasanya aku selalu memilih Trick Or Treat, mix antara Cappucino dengan Oreo. Yang agak nyeleneh, pelayan di sini seperti tidak memberi jarak dengan tamu sehingga mengesankan agak lancang, tapi sekaligus akrab. Biasanya saat mereka mencatat pesanan, pelayannya ikut duduk di meja yang sama sambil mencatat. Bahkan terakhir kali, salah satu dari mereka ikut menemani ngobrol di meja yang sama saat kami lagi makan. Tapi mereka asik-asik kok.

Serunya lagi, walaupun kita cuma memesan seadanya, kita bisa nongkrong selama yang kita mau. Bahkan kadang-kadang bila band sudah mulai tepat jam 9 malam, kita bisa turut masuk tanpa perlu memesan apa-apa. Dan percaya deh, harga masakan dan minumannya jauh lebih murah daripada beli di kafe-kafe. Jadi kamu jangan ragu-ragu kalau lagi di sekitar sana boleh deh mampir. Percaya deh ini bukan iklan, soalnya tempatnya beneran asik.

    • Popular
    • Categories
    • Archives